Informasi Pendidikan Eskul Media Mandiri bersama SMA PGRI 1 Majalengka, SMKN 1 Talaga, SMAN 2 Majalengka, SMKN 1 Majalengka, SMAN 1 Jatiwangi, SMAN 1 Talaga

Selasa, 05 Oktober 2010

Artikel Dr. M. Saroni,M.Ag (Redaktur ESKUL)

PENDIDIKAN
MECIPTAKAN BUDAYA KONSTRUKTIF

Oleh : M. Saroni


Konflik dalam dinamika kehidupan sosial manusia merupakan proses alamiah bisa mengarah kepada konflik keonstruktif maupun destruktif. Tetapi  realita di lapangan berdasarkan berita dari media khususnya dari televisi, sepertinya banyak menayangkan situasi konflik yang bersifat destruktif ketimbang yang konstruktif --- ini termasuk dalam tayangan sinetron. Cukup menarik, bahkan melalui tayangan itulah proses pembelajaran sedang berlangsung secara efektif dalam pembentukan karakter penonton. Menghadapi realita tersebut, bagaimana pendidikan turut berperan mengelola konflik untuk meminimalisir konflik destruktif sehingga berubah ke arah yang lebih konstruktif.
Bukankah kesadaran hidup individu manusia untuk menciptakan kondisi berkehidupan yang lebih tertib, aman dan tentram merupakan buah dari kesadaran beragama? Menurut keyakinan penulis, yang pasti bukan karena nilai dari norma agama, sebab agama dengan seperangkat aturan di dalamnya telah final sebagai  pemersatu aspirasi manusia paling sublim .
Ya boleh jadi di sinilah akibat pemahaman dan pemaknaan serta kepentingan individu dan kelompok yang berbeda. Kemudian, muncul pertanyaan apakah fenomena ini sebagai akibat dari mutu dan kualitas pendidikan? Jawabannya ya,  sebab kualitas pendidikan berperan besar terhadap kualitas pemahaman dan pemaknaan yang berujung terhadap kepentingan manusia untuk mencapai suatu tujuan. Berbekal kualitas pendidikan yang semakin baik maka setiap perbedaan akan disikapi sebagai perbedaan yang variatif, sebaliknya apabila kualitas pendidikan semakin menurun atau stagnan maka berdampak terhadap pembentukan sikap memandang perbedaan sebagai sesuatu yang saling bertentangan.
Berdasarkan kuantitas dari sisi jumlah dan strata bahwa masyarakat manusia saat ini semakin berhasil menempuh jenjang kependidikan yang lebih tinggi.  Tetapi apakah dijamin diiringi kualitas pendidikan yang semakin tinggi pula --- atau malah sebaliknya? Apabila kuantitas lebih meningkat sementara kualitas pendidikan semakin menurun, secara rasional akan menumbuhkan dinamika kedidupan manusia yang mengarah kepada tujuan hidup yang bertentangan dari hakikat tujuan pendidikan. Bukankah, orang yang tahu adalah orang yang tahu ditahunnya, maka orang berpendidikan logikanya tahu apa, mengapa dan bagaimana yang harus dilakukan untuk kemaslahatan bersama, sehingga dengan semakin meningkat kualitas pendidikan akan semakin meningkatkan sikap dan perilaku yang rendah hati dengan tujuan hidup yang jelas, sebab filosofi hakikat tujuan pendidikan bukan sekedar memperoleh simbol kelulusan tetapi makna terdalam dari simbol itu, apalgi apabila sekedar untuk  memperoleh sertifikat atau tanda lulus dan gelar, tetapi berbekal pendidikan akan menjadi manusia yang manusiawi yaitu makhluk yang sadar terhadap kapasitasnya sebagai pemimpin di muka bumi ini dengam kualitas akhlak yang mulia.
Oleh karena itu, dengan semakin meningkat kualitas pendidikan maka akan semakin tercipta budaya kehidupan manusia yang tertib, aman dan tentram. Walaupun konflik tidak mungkin lepas dari sifat individu dan sosial, sebab manusia mempunyai ciri dan cara berkehidupan yang sangat unik, dimana selain manusia dengan kemandiriannya mampu berperan sebagai makhluk individual yang turut mempengaruhi dinamika sosial, juga untuk kesempurnaan hidupnya terdapat sifat ketergantungan dengan sosialnya sehingga mempengaruhi cara dan ciri individual.
Keunikan manusia menurut Herbert Mead yang dikenal sebagai tokoh utama teori symbolic interactionism, karena manusia; (1) makhluk organisma yang aktif, keratif dan independen yang disebut self; (2) untuk melihat dirinya (self) terjadi self interaction melalui internal conversation (percakapan internal); sehingga (3) dalam proses selanjutnya menumbuhkan kesadaran individu untuk memahami dan memaknai simbol-simbol akibat kapasitas self dan self interaction yang disebut symbolic meaning .Tetapi berbekal kesadaran terhadap potensi dan eksistensinya, maka orang yang berpendidikan adalah orang yang seharusnya lebih mampu mengelola untuk meminimalisir konflik destruktif ke suasana yang konstruktif.
Akhirnya, melalui tulisan sederhana ini penulis menganggap bahwa melalui pendidikan manusia secara aktif, keratif dan independen dapat mengelola konflik untuk hal yang bersifat  konstruktif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar