Informasi Pendidikan Eskul Media Mandiri bersama SMA PGRI 1 Majalengka, SMKN 1 Talaga, SMAN 2 Majalengka, SMKN 1 Majalengka, SMAN 1 Jatiwangi, SMAN 1 Talaga

Senin, 04 Oktober 2010

H. Karna Sobahi Alih Profesi


Endang Suhendar, Penulis Resensi Buku
Bedah Buku Bersama Endang Suhendar

Judul          : Manajemen Pendidikan
Penulis       : Dr.H. Karna Sobahi,M.M.Pd  et.al
Penerbit      : Penerbit  Cakra
Tahun         : 2010 Cetakan pertama
ISBN          : 978-979-17341-3-4



Kepemimpinan Kepala Sekolah Sebagai  Pilar Penting Manajemen Pendidikan


Buku "Manajemen Pendidikan"
ditulis oleh Dr. H. Karna Sobahi,M.M.Pd
Melalui Pendekatan Manajemen Strategik, Manajemen Sekolah, Balanced Scorecard, Blue Ocean Strategy, Learning Organization, Manajemen Berbasis Sekolah, Manajemen Mutu Terpadu, Kepemimpinan Sekolah  ditulis oleh tiga praktisi pendidikan H. Karna Sobahi,H. Hanafiah dan Cucu Suhana.  H. Karna adalah dosen pada Fakultas Hukum dan Syariah di Universitas Islam Negeri Bandung. H. Hanafiah adalah dosen du FKIP dan Pascasarjana UNINUS Bandung, penyusun standar beasiswa S2 dan S3 pada Kementrian Agama, Pengampu Karya Tulis Ilmiah Online untuk guru golongan IV/a 04TK Depdiknas. Sementara Cucu Suhana adalah guru DPK di madrasah Al Burhan Cigadung Bandung dan pengawas madrasah di lingkungan Kementrian Agama kota Bandung serta dosen di STAIS.
Ketiga penulis tersebut memaparkan konsep dan strategi manajemen dalam delapan metode. Pertama, manajemen pendidikan dilakukan dengan metode manajemen strategik di mana implementasi manajemen pendidikan didasari nilai-nilai filsafat yang berisi nilai-nilai persaingan bebas antarorganisasi  bisnis sejenis, melalui pendayagunaan  semua sumber yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang bersifat strategik. Kedua, manajemen sekolah yang menitikberatkan manajemen pada administasi sekolah berdasarkan lima fungsi manajemen seperti yang dikemukan oleh Koontz dan Donnel yaitu planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), stafling (penentuan staf), Directing (pengarahan), dan controlling (pengawasan). Ketiga, manajemen pendidikan mengacu pada prinsip balanced scorecard yang merupakan suatu metode penilaian kinerja perusahaan dengan mempertimbangkan empat perspektif untuk mengukur kinerja perusahaan yaitu persfektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta proses pembelajaran dan pertumbuhan, Pendekatan balanced scorecard menekankan perspektif keuangan dan non-keuangan. Keempat, manajemen pendidikan dengan metode Blue Ocean Strategy (BOS) yang dikembangkan oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne. BOS adalah bagian dari stategi bisnis yang menerapkan penguasaan ruang pasar yang tidak diperebutkan (uncontested market space), sehingga membuat persaingan menjadi tidak relevan, Pasar yang tidak diperebutkan tersebut dianalogikan sebagai blue ocean (samudra biru) di mana suatu organisasi bermain sendirian tanpa ada pesaing. Sebaliknya kondisi di mana ruang pasar saling diperebutkan oleh berbagai pihak dengan cara apapun seakan-akan sampai berdarah-darah, maka kondisi ini dianalogikan sebagai red ocean atau samudra merah. Kelima, learning organization. yang merupakan proses peningkatan kompetensi dalam rangka menciptakan masa depan organisasi yang lebih baik, yang dilakukan melalui dinamika internal, analisis terhadap masalah keseharian, memperbaharui diri dari dalam (self renewal capacity), membangun daya saing (competitiveness) dan membangun organisasi yang sehat (healthy organization) di tengah perubahan lingkungan secara cepat, kompleks dan dinamis. Leaning Di dalam buku ini disebutkan, learning organization secara cerdas dapat menyesuaikan diri secara autoplastis, yaitu proaktif mengubah tim sesuai dengan visi lingkungan, dalam hal ini dapat melakukan positioning sebagai driven market dan alloplastis (pro aktif mengubah lingkungannya sesuai dengan visi tim).
            Selanjutnya dalam Bab VI  Karna Sobahi dkk menulis,   manajemen pendidikan diterapkan dengan menggunakan konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Manajemen pendidikan berbasis sekolah ini merupakan  terjemahan dari school based management, yaitu pada hakikatnya adalah penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Ketujuh, manajemen pendidikan menggunakan sistem manajemen mutu terpadu atau total quality management (TQM). TQM merupakan suatu pendekatan manajemen yang berkembang dari Amerika Serikat, dipelopori oleh pakar kualitas Deming, Juran, dan Crosby di mana telah diimplementasikan sejak tahun 29150 untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Di dalam TQM, setiap orang yang berada di dalam organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan terus menerus.
            Selain ketujuh yang disebutkan tadi, manajemen pendidikan juga menggunakan asas-asas kepemimpinan kepala sekolah dalam hal ini istilah yang digunakan adalah leadership. Menurut para penulis, terdapat beberapa model kepemimpinan di antaranya moel watak kepimpinan (traits model of leadership), model kepemimpinan situasi (model of situasional leadership), model kepemimpinan yang efektif (model of effective leaders), model kepemimpinan kontingesi (Contingecy model), dan model kepemimpinan transformastional).
            Menurut mereka, pemimpin di sekolah lazimnya dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat di mana terjadinya interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Para kepala sekolah harus memiliki kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, dan kompetensi sosial. Kepala sekolah juga harus memenuhi standar mutu sekolah. *** 
Dr. H. Karna Sobahi,M.M.Pd  menulis buku "Manajemen Pendidikan"




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar