Informasi Pendidikan Eskul Media Mandiri bersama SMA PGRI 1 Majalengka, SMKN 1 Talaga, SMAN 2 Majalengka, SMKN 1 Majalengka, SMAN 1 Jatiwangi, SMAN 1 Talaga

Sabtu, 18 Desember 2010

Remaja dan Permasalahannya



Oleh : Rohmat, S. Pd., M. Pd.I

Juara Liga Karya Tulis ESKUL 2010

Masa remaja dapat dikatakan sebagai masa penentu arah untuk kehidupan individu selanjutnya. Pada masa remaja itulah berbagai tuntutan pemenuhan tugas-tugas perkembangan, termasuk berbagai tanggung jawab dan penyesuaian-penyesuaian, menuntut mereka untuk beradaptasi baik dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan di luar dirinya.

Terkait dengan masalah pengaruh lingkungan terhadap perkembangan remaja ini, Syamsu Yusuf LN, (2005) mengemukakan sebagai berikut.

Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat sangat mempengaruhi perkembangan pola perilaku atau gaya hidup siswa (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib sekolah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA, kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex).



Dengan proses adaptasi remaja dengan lingkungannya tersebut, ada dua stimulus yang mempengaruhi perkembangan mereka khususnya dalam berprilaku, yaitu stimulus positif dan stimulus negatif. Stimulus positif yaitu rangsangan positif yang akan membantu remaja dalam penyesuaian dirinya apabila direspon dengan baik. Sedangkan stimulus negatif yaitu sebuah rangsangan yang menghambat remaja dalam menyesuaikan dirinya apabila direspon oleh remaja dengan cara mengikutinya.

Jika stimulus negatif itu dikuti oleh remaja, maka dapat menimbulkan keresahan, kecemasan dan ketakutan orang tua dan lingkungannya dalam melihat dan mengamati gejolak perilaku remaja yang mengganggu ketertiban.

Pada saat ini ternyata masih banyak stimulus negatif dengan berbagai bentuknya, yang lebih banyak direspon oleh remaja dengan cara mengikutinya. Perilaku remaja tersebut dianggap dapat menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan di masyarakat di antaranya, tawuran, pergaulan bebas, dan penggunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, Alkohol, dan Zat Adaftif).

Remaja yang terjebak dalam penyalahgunaan NAPZA tersebut di atas diakibatkan oleh berbagai kondisi, antara lain disebabkan oleh perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosi secara wajar, mudah cemas dan cenderung depresi. Selain itu, kemampuan remaja untuk memecahkan masalah secara tepat berpengaruh terhadap bagaimana remaja itu dengan mudah mencari pemecahan masalah dengan melarikan diri dari kenyataan hidup yang mereka jalani. Hal itu pula yang mengakibatkan, para remaja dengan mudah menyalahkan lingkungan di mana mereka tinggal (keluarga) dan lebih melihat faktor-faktor di luar dirinya untuk menentukan sesuatu yang diinginkannya. Akhirnya, karena ketidakberdayaannya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, para remaja itu memandang bahwa obat-obatan terlarang sebagai alternatif jawaban dalam memecahkan masalahnya itu. Kondisi ini lebih diperburuk lagi dengan pengaruh teman sebaya (peer group). Pengaruh teman sebaya ini sangat berpengaruh bagi perkembangan kepribadian remaja itu sendiri, sehingga mereka terjebak dalam tindakan penyalahgunaan NAPZA apabila remaja tidak memiliki prinsip diri pribadi yang kuat.

Selain hal-hal yang telah disebutkan, ada lagi yang menghawatirkan atas perilaku remaja saat ini yaitu sikap arogansi, saling memfitnah sesama teman, rendahnya kepedulian sosial, meningkatnya hubungan seks pra-nikah, bahkan merosotnya penghargaan dan rasa hormat terhadap orang tua dan guru sebagai sosok yang seharusnya disegani dan dihormati.

Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan manusia yang paling banyak mengalami perubahan. Secara tradisional masa ini biasa disebut dengan masa badai dan tekanan, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi. Setidaknya ada dua alasan bagi penyebab kesulitan ini. Pertama, Semasa kanak-kanak, sebagian besar masalah biasa diselesaikan oleh orang tua, sehingga para remaja belum punya pengalaman untuk mengatasi masalahnya sendiri. Kedua, Para remaja merasa dirinya mandiri, sehingga menolak bantuan orang tua, guru, dan orang yang lebih tua lainnya, mereka ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.

Menurut Syamsu Yusuf (2006) masa remaja merupakan periode perkembangan manusia yang paling banyak mengalami perubahan. Pada masa ini merupakan saat-saat perpindahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Berbagai macam perubahan meliputi semua segi kehidupannya seperti perubahan jasmani, pikiran, perasaan dan sosial. Pada umumnya, perubahan tersebut dimulai dari perubahan jasmani yang mencolok pada usia 13 atau 14 tahun. Selanjutnya perubahan tersebut akan diikuti atau disertai dengan adanya perubahan-perubahan lain yang terus berjalan sampai mencapai usia 20 tahun, sehingga bisa dikatakan bahwa masa remaja terjadi antara usia 13 sampai 20 tahun.

Para remaja dalam menghadapi permasalahannya bisa digolongkan kedalam dua kelompok, pertama, mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhan diri sendiri beserta lingkungannya, mereka adalah remaja yang sukses dalam menjalani kehidupannya. Kedua, mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhannya.n diri dan lingkungannya.

Semua perilaku remaja seperti yang digambarkan diatas, menurut penulis tidak terlepas dari lingkungan dimana remaja itu berada. Karena sebagai makhluk sosial, remaja dalam menjalani kehidupannya senantiasa berhubungan dengan orang lain dimana remaja itu berada atau dengan kata lain dia melakukan relasi interpersonal. Dalam relasi interpersonal itu ditandai dengan berbagai aktivitas tertentu, baik aktivitas yang dihasilkan berdasarkan naluriah semata atau justru melalui proses pembelajaran tertentu. Berbagai aktivitas individu dalam relasi interpersonal ini biasa disebut perilaku sosial.

Krech et. al. (www. akhmadsudrajat.wordpress.com) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon interpersonalnya, yang terdiri dari : (1) Kecenderungan Peranan (Role Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan posisi yang dimiliki seorang individu, (2) Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain, dan (3) Ekspressi (Expression Disposition), yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).



Tabloid Pendidikan ESKUL
Mengucapkan Selamat 
kepada 
Rohmat,S.Pd,M.Pdi 
atas kerja keras selama satu tahun (2010) memberikan sumbangsih pemikiran 
kepada para para pembaca ESKUL melalui karya tulis.
Kepadanya Eskul memberikan sebutan 
"Penulis Terbaik ESKUL 2010"

Semoga Tanda Penghargaan ini dapat memberikan dorongan untuk bisa berkiprah
lebih baik lagi di masa mendatang. 


Ttd
Endang Suhendar 
Dedi Junaedi 
Nandang Darana 
Aris Setiawan 
Ujang Achyar
Andi Sumarno,SE
Priharyanti van Herp (Eskul Belanda) 
Dedi Supriyadi (Eskul Aljajair)
Mohammad Hasan (Eskul Jepang) 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar