Informasi Pendidikan Eskul Media Mandiri bersama SMA PGRI 1 Majalengka, SMKN 1 Talaga, SMAN 2 Majalengka, SMKN 1 Majalengka, SMAN 1 Jatiwangi, SMAN 1 Talaga

Jumat, 31 Desember 2010

TAK ADA YANG ABADI


Cerpen NURA

Matahari mulai merangkak naik. Langit biru membentang indah tetap setia memayungi bumi. Angin semilir nan sejuk membelai daun-daun kehidupan yang terus bergeliat. Jam di tanganku menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Waktunya pergi ke kampus, seperti hari-hari yang lalu. Saat membuka pintu rumah, aku terkejut. Bingkisan mungil bersampul biru muda serta setangkai mawar putih tepat berada di depan kakiku. Aku pun bertanya-tanya, siapa gerangan yang mengirimkan bingkisan ini ke rumahku? Dengan ragu, ku buka kartu ucapan yang diselipkan di setangkai mawar putih itu.
Kelopak-kelopak mawar bermekaran
Berayun dibuai angin fajar
Seharum kasih yang merekah
Selembut kasih yang mengembang
Dan kelopak demi kelopak
Adalah untaian kasih bagimu
Untuk menyapa kelopak kasih
Yang setia menanti dalam buai sang bayu?
                                                                                                *F. R.
            Sepanjang hari Dinda tidak dapat memusatkan pikiran. Tak satu pun mata kuliah yang bisa diikutinya dengan baik. Mungkinkah itu pemberian dari Fathir? Ah! Tidak mungkin. Ia hanyalah masa laluku saja. Apalagi itu terjadi sekitar 6 tahun silam.
Tepat pukul sepuluh lewat lima menit, mata kuliah terakhir selesai. Aku segera mengemasi buku-buku, memasukkan ke dalam tas, lalu mengikuti temanku, Santi keluar dari ruang kuliah.
Aku menelusuri jalan dengan lesu. Matahari merangkak tinggi, terasa luar biasa panas dan terik pada saat perasaan sedang kalut. Masih memikirkan bingkisan dan juga kartu ucapan tadi pagi. Ketika sesampainya di rumah, aku membuka bingkisan tadi pagi. Aku terlonjak saat melihat isi bingkisan tersebut. Sebuah kalung berbandul huruf “D”. Sungguh indah nian. Namun tiba-tiba ibuku mengetuk pintu kamar.
“Sayang, makan siang dulu. Ibu sudah siapkan di meja makan.” ujar ibunya.
“Iya, Bu.” jawabku.
Lalu Dinda buru-buru menyimpan kalung tersebut di dalam laci meja belajarnya, karena takut ibunya tahu tentang ini.
Seminggu kemudian, aku kembali mendapat bingkisan dan setangkai mawar putih lengkap dengan kartu ucapannya. Entah untuk kesekian kali aku mendapatkan bingkisan-bingkisan tersebut.
Setetes embun menitikkan kemilau
Pesonanya menebar membuatku terpukau
Kelopak demi kelopak mawar
Merekah berhias embun segar
Setiap helai kelopak berhias kasih
Setiap tetes embun berhias rindu
Biarlah kasihku rindumu
Berpadu dalam harumnya pesonamu
                                                                        *F. R.
Udara malam ini terasa lebih dingin. Tak ada suara serangga malam yang biasa meningkahi datangnya malam. Membuatku tak ingin pergi keluar rumah dan hanya berkutat dengan bingkisan dan kartu ucapan yang didekap olehku. Saat aku termenung, ponselku berbunyi. Dilihatnya layar ponsel, nomor pribadi. Dalam benak, aku bertanya-tanya. Namun aku segera menjawabnya.
“Halo, Dinda? Masih ingat padaku?” ujar suara di seberang sana.
Memori di pikiranku langsung bekerja, dan dalam hitungan detik aku pun dapat mengenali suara yang menyapanya tadi.
“Fathir?” dengan ragu-ragu aku pun akhirnya menjawab.
“Kamu suka dengan bingkisan yang ku berikan tempo hari padamu?.” ujarnya.
Aku tertegun. Benarkah orang yang menelponku ini adalah Fathir? Orang yang dulu pernah singgah di hatiku. Orang yang dulu selalu menghiasi hari-hariku dengan indah. Di setiap kartu ucapan yang dikirim tertanda F. R? Fathir Ramadhan? Apakah itu maksudnya? Yang selama ini memberiku bingkisan dan kartu ucapan itu adalah Fathir? Dengan refleks, aku mencubit pipi kanannya. Auw! Dan ternyata sakit. Ini benar-benar bukan mimpi. Namun ada sedikit rasa senang menyeruak di hati. Pembicaraan singkat melalui telepon malam itu membuka harapan Dinda yang lama telah terkubul mati muncul kembali ke permukaan.
Sejak malam itu, kami lebih sering bertemu di luar seusai pulang kuliah. Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu. Hubungan kami semakin dekat. Tak ayal, Fathir pun masih sering memberikan setangkai mawar putih padaku lengkap dengan kartu ucapan yang berisi dengan puisi-puisi romantisnya. Aku menikmati hari-hari berikutnya dengan suasana hati yang baru. Antara aku dan dia terjalin komunikasi yang baik.
Dan pada suatu waktu, Fathir mengajakku pergi ke sebuah resto terkemuka di kota Kembang ini. Sebelum memasuki resto tersebut, dengan sengaja tangan Fathir menutup mataku.
“Ada apa ini?” tanyaku pada Fathir.
“Aku punya sesuatu yang spesial untukmu, Dinda.” katanya.
“Apa?” tanyaku kemudian.
“Lihat saja nanti. Kamu akan tahu sendiri.” jawabnya.
Kemudian Fathir memapahku memasuki pintu resto. Cukup ku rasakan udara dingin di dalam resto tersebut. Dan sayup-sayup suara musik terdengar di telingaku.
Tak lama kemudian Fathir melepaskan tangannya dari mataku. Dan saat ku buka mata ini, terlihat kerlap-kerlip cahaya dari lilin-lilin kecil mengitari aku dan Fathir. Tak tertinggal sebuah meja bundar lengkap dengan sepasang kursi berhias pita merah tepat berada di depanku. Aku takjub melihat semua ini.
“Kamu suka, Dinda?” tanyanya.
Aku tak menjawab.
“Dinda?” sapanya.
“Iya?” jawabku dengan terbata-bata.
“Kamu suka dengan semua ini?” tanyanya lagi.
Aku hanya menjawab pertanyaan Fathir tadi dengan sebuah senyuman di bibirku yang merah merona. Aku pun tersipu malu.
Lalu, kami pun makan malam berdua.
Di saat makan malam telah usai, Fathir beranjak mendekatiku. Ia mengeluarkan sebuah cepuk berwarna merah dari dalam saku celananya. Dan kemudian Fathir berlutut di hadapanku.
“Dinda, butir demi butir kemilau kasihku dengan benang rindu dan kukalungkan ke lehermu agar kamu selalu ingat bahwa aku sayang padamu.” ujarnya.
Setelah itu, Fathir langsung membuka cepuk tadi. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah kalung berbandul huruf “F”. Dengan lembut Fathir memakaikannya ke leherku. Tidak hanya kalung itu saja yang kini melingkar di leherku, tetapi juga kasih dan sayangnya kini telah bersemayam di hatiku.
*   *   *
            Tak terasa waktu terus berlalu. Hari ini genap 6 bulan aku merajut benang-benang kasih bersama Fathir. Rencananya Fathir akan mengajakku pergi ke suatu tempat yang sejuk dan dipenuhi dengan pohon pinus. Namun kini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit, Fathir tak kunjung jua datang menjemputku. Mungkin terjebak hujan, pikirku. Karena sejak semalam hujan tak henti-hentinya turun membasahi kota Kembang. Ku coba menghubunginya lewat ponsel namun sayang tak dapat dihubungi.
Di sebuah jalanan sepi, Fathir mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Ia merasa bersalah pada Dinda karena terlambat menjemputya, pikirnya. Ketika ia sedang melihat jam di tangannya, tiba-tiba dari arah berlawanan, sesuatu yang keras menyambarnya. Fathir bahkan tidak dapat merasakan sakit, hanya pandangannya yang berubah gelap seketika, dan sesuatu yang asin dan anyir memenuhi mulutnya.
Di rumah, aku gelisah menunggu kedatangan Fathir. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Tak lebih dari lima menit untuk membacanya, aku pun langsung pegi ke tempat yang disebutkan di dalam pesan singkat itu.
Di sana, di tengah riuh rendah suasana itu, aku mencoba menerobos masuk melalui police line. Di sana, ku lihat sesosok badan terbujur kaku berlumuran darah tepat terbaring di depanku. Aku memberanikan diri membuka kain yang menutup sosok badan itu. Sekujur tubuhku terasa lemas dibuatnya. Sosok yang sangat aku kenali, Fathir. Tercenung. Pandanganku mencoba merangkum suasana yang berubah seketika. Tidak terlalu cepatkah, pikirku.
Kegelisahan di mataku semakin pekat. Setumpuk rasa mulai beraduk-aduk dalam hatiku. Di mataku terbingkai sebuah kaca yang terbuat dari serangkaian air keperihan hatiku. Dan mulai menetes membasahi pipiku.
Kala itu, tetes demi tetes air mataku bersatu padu bersama air yang turun dari langit. Biarlah hujan itu jatuh mengiringi kepergiannya. Turun pada muka dunia yang lelah. Memercik tanah yang lama haus akan kesejukan. Kemudian menghujam menuju pusara bumi.
Dan biarlah hujan itu deras. Membasahi kalbu-kalbu yang kering nan gersang. Membasuh sekelumit kekerdilan jiwa. Tak perlu mengingkarinya. Tak perlu menahan curahnya. Karena ia seperti waktu. Dan memang bagian dari waktu. Biarlah semuanya berlalu. Mengikuti kodratnya sendiri.
Dinda sayang...
Panggilan itu telah pergi,
Bersama sosok yang mengasihiku...
Dengan kelembutan hatinya,
Dengan ketulusan jiwanya,
Seperti yang ingin...
Kubagikan pada siapa saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar