Informasi Pendidikan Eskul Media Mandiri bersama SMA PGRI 1 Majalengka, SMKN 1 Talaga, SMAN 2 Majalengka, SMKN 1 Majalengka, SMAN 1 Jatiwangi, SMAN 1 Talaga

Sabtu, 08 Januari 2011

Yang Terlupakan



Oleh : ROHMAT ((Ketua MUI Desa Leuwikidang Majalengka)

Terinspirasi dari sebuah tayangan televisi swasta “TVONE” pada jumat sore (24/09/10), penulis mencoba menulis. Dimulai dari sebuah pengabdian yang panjang dari seseorang “Juru Dakwah” di Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta. Sang Juru Dakwah dengan bekal ilmu seadanya (yang hanya tamatan SMP) dia memberi pelajaran (ceramah) agama kepada para napi yang ada di Lembaga Pemasayarakatan itu. Hampir separuh waktunya, bahkan lebih Sang Penjuru Dakwah itu mengabdikan dirinya untuk para narapidana, tujuannya hanya satu yaitu agar para napi yang nantinya akan kembali kekeluarga, dan masyarakatnya menjadi orang orang yang berguna. Dia memang tinggal tidak juah dari dari LP Salemba itu, ya sekita 2-3 km. Tapi yang sangat menarik adalah Dia mengajarkan ilmu agama itu tidak mengahrapkan apa-apa dari manusia, Dia hanya mengharapkan keredloan dan keberkahan dari Allah Yang Maha Kaya. Orang tersebut bernama Pa Soleh. Sesoleh namanya, sesoleh pekerjaannya.
Kejadian diatas sepatutnya menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Pelajaran bagi bagi kita para guru, pelajaran bagi penda’I, pelajaran bagi pemegang kekuasaan, pelajaran bagi orang kaya, dan pelajaran bagi orang yang selalu mengejar materi dalam kehidupannya. Pa Soleh tidak pernah mendapat gaji tetap dari LP Salemba, Pa Soleh tidak pernah masang target dalam berdakwah, Pa Soleh tidak meminta untuk dijadikan PNS oleh Negara, Pa Soleh tidak pernah mengeluh akan segala kekurangannya. Setidaknya Pa Soleh hanya berharap Tuhan melihat dan memperhatikan setiap apa yang dikerjakannya.
Tapi memang ada satu keinginan Pa Soleh yang yang belum terwujud yaitu berangkat Ketanah Suci, tanah dimana tempat dilahirkannya Rasulullah Muhammad SAW untuk menunaikan Ibadah Haji. Sambil menangis tersedu-sedu dan minta dodoakan oleh yang mewawancarainya Pa Soleh sangat berkeinginan intuk menunaikan ibadah Haji ketanah SuciPa Soleh yang terlupakan, Pa Soleh yang tersentuh dana APBD, Pa Soleh yang terlalu kecil dari jangakauan APBN, dan Pa Soleh yang terlupakan dari DAU (Dana Abadi Ummat) Depag.
Disisi lain, kita menyaksikan orang berdemo meminta tambahan penghasilan. Orang meminta berangkat haji dari dana APBD. Para Haji yang ingin dihajikan dengan Dana APBN, Pejabat / pemimpin ummat berebut bagian dari Dana Abadi Umma (DAU) Depag, dan lain sebagainya.
Pertanyaannya sekarang adalah kenapa orang seperti Pa Soleh terlupakan. Dan masih banyak pa soleh-soleh yang lain, bahkan jumlahnya Juta-an. Mata ini buta dengan kegemerlapan dunia, mata hati tertutup dengan hawa nafsu syaitoniyyah, telinga tertutup dengan bisikan syahdu kemaksiatan sehingga tidak dapat meilhat nun jauh disana orang yang berjuang mempertahankan agama dengan mengajarkan anak-anak tuk membaca al-qur’an, tidak dapat mendengar rintihan doa mereka yang selalu Negara ini aman dan damai.
Sementara ini kita selalu diingatkan dengan semboyan untuk guru yang mendapatkan gaji dengan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, kira-kira semboyan apa yang cocok bagi mereka para guru ngaji, para penceramah yang tidak menerima ‘amplop’?
Kita berharap semoga pengabdian orang yang terlupan itu, nantinya selalu diingat dan diperhatikan oleh sang pemegang kekuasaan dan pemegang kebijakan. Amin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar