Liputan Pendidikan

PhotoScape Mania MS Product bersama SMAN 1 Kasokandel, SMAN 1 Sukahaji, SMAN 1 Kadipaten, SMKN 1 Kadipaten, MTsN Sukaraja, SMPN 1 Kasokandel

Kamis, 10 Maret 2011

PENGARUH TELEVISI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA


Oleh : Rahmat Saleh, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 3 Majalengka
Rahmat Saleh, S.Pd.M.Pd
 
Televisi merupakan gabungan radio dan film. Televisi dapat meneruskan satu peristiwa dalam bentuk gambar hidup disertai suara. Komunikasi merupakan suatu hal yang penting saat ini, terutama dalam bentuk informasi yang disampaikan media massa, khususnya televisi.
Dilihat dari fungsinya, pengaruh tayangan televisi terbagi menjadi dua bagian, yakni: pengaruh dari luar dan pengaruh dari dalam. Saat ini, anak-anak dan para remaja sangat menyukai acara sinetron. Hal ini jelas akan berpengaruh pada perkembangan prestasi belajarnya. Sebagaimana kita ketahui, pengaruh sinetron sangat besar terhadap perkembangan emosi anak. Hal ini disebabkan anak akan lebih memahami melalui proses melihat, merekam, dan meniru.
Pengaruh penayangan sinetron mendorong orang untuk bereaksi dalam situasi, khususnya dalam motivasi belajar yang bisa kita cermati secara langsung yang dapat diserap oleh anak. Banyak sekali sinetron yang baik dan mendidik terhadap prestasi belajar sehingga para remaja termotivasi belajarnya atau pun sebaliknya.
Saat usia remaja, kehidupan lebih dominan menghibur dan masa mencari
jati diri. Para remaja lebih sering menghabiskan waktu bersama teman sebayanya. Jika ada waktu senggang di rumah, mereka mengisi waktu dengan menonton acara televisi. Saat ini, banyak sekali sinetron-sinetron remaja dengan tema dan cerita yang beragam, mulai dari tema percintaan, persahabatan, sampai cerita perselisihan antar-remaja. Jika orang tua dan remaja tersebut tidak arif, pengaruh sinetron tersebut dapat dijadikan contoh dalam pergaulan para remaja.
            Belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang bersifat positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Belajar memiliki arti penting bagi siswa, karena melalui kegiatan belajar para siswa melaksanakan kewajiban keagamaan, meningkatkan derajat kehidupan, dan mempertahankan serta mengembangkan kehidupan.
            Dalam perspektif psikologi, antara belajar, memori, dan pengetahuan memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Dalam perspektif agama, belajar dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dengan  menggunakan memori dan sensori hukumnya adalah wajib.
            Teori-teori pokok mengenai belajar terdiri atas: 1) teori koneksionisme,   2) pembiasaan klasik, 3) pembiasaan perilaku respon, dan 4) teori belajar kognitif. Teori 1 – 3 bersifat behavioristik (perilaku jasmaniah), sedangkan teori 4 bersifat kognitif yakni belajar merupakan peristiwa mental.
            Proses belajar dilakukan dan dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan. Melalui tujuan itu, diharapkan siswa mengalami perubahan positif. Perubahan itu meliputi aspek kognitif atau aspek pengetahuan, aspek apektif atau aspek sikap, dan aspek psikomotor atau aspek keterampilan. Keberhasilan prestasi belajar siswa dapat diketahui berdasarkan perbedaan-perbedaan tingkah laku sebelum dan  sesudah  siswa  melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan yang dikembangkan oleh mata”. Lain lagi menurut Arikunto (1980:217) yang mengatakan bahwa guru sebagai subjek sangat bertanggung jawab dalam menentukan kualitas pembelajaran”. Oleh karena itu, guru mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa.
            Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti faktor jasmani, psikologis, dan kematangan, sedangkan faktor dari luar siswa di antaranya faktor sosial, budaya, dan lingkungan fisik.
Dalam perkembangan dunia pertelevisian, orang mengenal istilah sinetron. Sinetron merupakan bentuk film atau gambar hidup yang ditayangkan melalui media layar kaca. Tayangan sinetron memiliki durasi tayang yang lebih pendek dibandingkan dengan film layar lebar dalam satu kali tayangan. Namun demikian, muncul pula sinetron berseri, sebagai upaya penarik minat pemirsa terhadap sinetron yang ditayangkan. Istilah sinetron muncul dan popular sejalan dengan bermunculannya stasiun televisi swasta.
            Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa sinetron adalah bentuk tayangan film atau gambar hidup yang bergerak. Sinetron memiliki durasi tayang relatif singkat yang disajikan secara bersambung atau berseri.
            Secara umum, tayangan sinetron sangat berpengaruh terhadap  pemben-
tukan karakter, sikap, dan perilaku remaja. Frekuensi menonton  sinetron  sangat
bervariasi tergantung motivasi remaja itu sendiri. Harsono (1988:250) mengemu-kakan bahwa motivasi adalah wujud yang tidak tampak pada orang dan tidak bisa kita amati secara langsung. Hal yang bisa kita amati adalah tingkah lakunya yang merupakan akibat atau manifestasi dari adanya motivasi pada orang itu”.
            Dilihat dari fungsinya, motivasi terbagi dalam dua bagian, yakni motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul pada diri sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul dari luar diri seseorang. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik memegang peranan penting terhadap tumbuh dan berkembangnya perilaku serta sikap anak. Artinya, remaja yang sering menonton sinetron diharapkan terdorong untuk menanggapi cerita sinetron secara positif dan dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan menonton sinetron dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan sikap remaja.

Televisi Sebagai Sarana Komunikasi dan Informasi
            Komunikasi merupakan ciri pokok kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Rachmadi (1988:3) menyatakan bahwa komunikasi hakikatnya merupakan wahana utama bagi kehidupan manusia dan merupakan jantung dalam segala hubungan sosial. Ini artinya, manusia hanya bisa berhubungan dengan sesamanya dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya.
            Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Secara lisan atau tulisan, bahkan melalui isyarat. Media biasa digunakan manusia saat berkomunikasi antara lain, surat, televisi, telepon, handphone, atau internet. Semua alat komunikasi tersebut bersifat dua arah.
            Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini, peranan dan pengaruh komunikasi sangat penting. Media massa, baik televisi ataupun koran, dapat memberikan perubahan besar terhadap manusia, karena informasi dapat diberikan secara langsung dengan waktu yang relatif singkat. Suatu kenyataan bahwa informasi dan komunikasi sudah menjadi kebutuhan manusia di seluruh dunia. Melalui komunikasi, manusia dapat bertukar pengetahuan dan informasi dalam kerangka pengembangan kerjasama. Media massa, khususnya televisi dan koran, dapat memberikan pengaruh pada pembentukan sikap seorang manusia.
            Seperti yang telah dikemukakan di atas, tayangan sinetron dapat berpengaruh pada perkembangan anak dan remaja, khususnya perkembangan prestasi belajarnya. Orang tua harus bisa dan mampu mengarahkan anak-anaknya agar mereka tidak meniru tayangan-tayangan yang kurang layak mereka tonton. Oleh karena itu, orang tua harus menekankan anak-anaknya untuk lebih mendahulukan pelajaran daripada menonton sinetron. Saat ini, kita hanya bisa berargumentasi, tetapi mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat, Semoga !
{dik's}

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar